Tampilkan postingan dengan label isu nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label isu nasional. Tampilkan semua postingan

Menganalisis PP 02 Tahun 2008 dan Implikasinya

Minggu, 06 Mei 2012

Memperingati momentum hari internasional planet bumi yang jatuh pada 22 April 2008, kalangan aktivis lingkungan dikejutkan dengan regulasi yang digulirkan pemerintah yaitu PP 02 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berasal Dari Penggunaan Kawasan Hutan Untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan Yang Berlaku Pada Departemen Kehutanan. Regulasi ini cukup meresahkan masyarakat yang peduli akan kelestarian hutan karena regulasi tersebut dapat mengancam keberadaan hutan lindung di Indonesia.


Opini yang beredar menimbulkan persepsi bahwa regulasi ini berpotensi mengancam keberadaan hutan lindung. Secara kontekstual tidak terdapat pasal maupun poin yang mengindikasikan bahwa keberadaan hutan lindung termasuk kedalam kategori hutan yang dikomersialkan. Segala kebijakan mengenai penentuan hutan yang termasuk dalam komersialisasi diatur oleh Departemen Kehutanan sebagai pelaksana teknis. Hal tersebut kemudian menjadi permasalahan mengingat kredibilitas aparatur negara yang selama ini telah melakukan kesalahan fatal dengan mengkomersialkan hutan.


Opini tersebut bukanlah tidak beralasan karena fakta yang selama ini diketahui oleh masyarakat, pengelolaan hutan di Indonesia tergolong carut-marut. Pada tataran kebijakan maupun teknis selalu muncul permasalahan kerusakan hutan akibat keserakahan para pengusaha yang mengantongi izin HPH. Legalisasi perambahan hutan tersebut disalahgunakan dengan mengeksploitasi hutan melampaui kapasitas eksploitasi yang diperbolehkan. Usaha tersebut tidak diimbangi dengan upaya rehabilitasi yang memadai karena para oknum yang seharusnya bertanggung jawab hanya memikirkan keuntungan diri sendiri.


Dengan berpijak pada historis tersebut maka wajar jika masyarakat kemudian melontarkan protes atas komersialisasi hutan melalui peraturan pemerintah tersebut. Dengan adanya komersialisasi akan membuka lebar peluang penyalahgunaan fungsi kawasan hutan sehingga akan mengancam kelestarian hutan. Oleh karena itu dibutuhkan pengawalan terhadap implementasi kebijakan tersebut sebagai upaya meminimalisir penyimpangan yang terjadi. Untuk mewujudkannya dibutuhkan kerja sama semua pihak.

Pilkada Langsung Melanggar Pancasila

Sabtu, 05 Mei 2012

Mekasnisme pemilihan kepala daerah (pilkada) langsung dinilai melanggar Pancasila,

khususnya sila keempat yang berbunyi 'Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan'.


Pandangan tersebut dikemukakan Guru Besar Hukum Administrasi, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta Muchsan dalam paparannya pada sebuah diskusi panel di Universitas Islam Batik (Uniba) Solo, Jawa Tengah.


"Karena dengan pilkada langsung, mekanisme perwakilan itu menjadi tidak ada," tegasnya.
Bukan cuma itu, efek lain yang ditimbulkan perubahan mekanisme dalam pilkada ini adalah masalah pertanggungjawaban yang menjadi semakin tidak jelas.


"Jika dulu saat menggunakan mekanisme pemilihan melalui perwakilan, seorang kepala daerah bertanggung jawab kepada DPRD, sekarang, dengan peralihan ke pemilihan secara langsung, setelah masa jabatan kepala daerah itu berakhir, ia harus bertanggung jawab kepada siapa?'' tanyanya.


Menurutnya, itu baru merupakan sudut yuridisnya. Sedang dari aspek empiris, ia menilai pilkada langsung lebih banyak ruginya. Selain seringkali menjadi pemicu munculnya gesekan dan perseteruan di tingkat bawah, poses ini juga membutuhkan biaya sangat besar.


"Setiap pelaksanaan pilkada membutuhkan dana triliunan rupiah. Itu kalau digunakan membangun kampus baru, seperti Uniba ini sudah jadi sepuluh buah," selorohnya disambut tawa hadirin. (mo/hr)


Source : http://www.menkokesra.go.id/content/view/8665/39/